Pages

Rabu, 15 Februari 2012

biografi ibnu bajjah



PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN FILSAFAT DI DUNIA BARAT

1.      IBNU BAJJAH

A.    Sejarah Singkat Kehidupannya

Nama asli Ibnu Bajjah adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya               Al-Sha’igh. Di dunia Barat ia terkenal dengan sebutan Avempace. Dia berasal dari keluarga Al-Tujib. Maka ia terkenal dengan sebutan Al-Tujibi. Ibnu Bajjah lahir pada abad 11 M atau abad V H, di kota Saragossa dan sampai besar. Dia dapat menyelesaikan jenjang akademisnya, juga di kota Saragossa. Maka ketika pergi ke Granada, dia telah menjadi seorang sarjana bahasa dan sastra Arab dan dapat menguasai dua belas macam ilmu pengetahuan.2)

B.     Hasil Karyanya

Beberapa karya Ibnu Bajjah antara lain :
1.      Risalat Al-Wada’               :    berisi tentang ilmu pengetahuan
2.      Tardiyah                            :    berisi tentang syair pujian
3.      Kitab Al-Nafs                    :    berisi tentang catatan dan pendahuluan dalam bahasa Arab
4.      Tadbir Al-Mutawahhid      :    ( Rezim Satu Orang )
5.      Risalah-risalah Ibnu Bajjah yang berisi tentang penjelasan-penjelasan atas risalah-risalah Al-Farabi dalam masalah logika.
6.      Karya-karya yang disunting oleh Asin Palacios dengan terjemahan bahasa Spanyol dan catatan-catatan yang diperlukan : (i) kitab Al-Nabat,                 Al-Andalus jilid V, 1940, (ii ) Risalah Ittishal Al-Aql Bi Al-Insan,                   Al-Andalus, jilid VII, 1942; (iii) Risalah Al-Wada’, Al-Andalus, jilid VII 1943; (iv) Tadbir Al-Mutawahhid dengan judul El-Regimen Del Solitario, 1946.
7.      Majalah Al-Majama’ Al-‘Ilm Al-‘Arabi.3)
Jika kita memegangi apa yang dinukilkan oleh Munk, maka kita bisa menetapkan bahwa teori Al-Ittishal Al-Farabi mendapat kehormatan besar               di tangan Ibnu Bajjah. Dan bukunya : Tadbir Al-Mutawwahid, bermaksud menetapkan bahwa manusia bisa berhubungan dengan akal fa’al dengan perantaraan ilmu ( pengetahuan ) dan pembangunan potensi manusia.4) Segala keutamaan dan perbuatan moral diarahkan untuk memimpin dan menguasai jiwa manusia mengalahkan jiwa hayawaniah. Secara global seseorang harus mengupayakan perjuangannya untuk berhubungan dengan alam atas, baik secara bersama-sama dengan masyarakat maupun secara terpisah. Sehingga jika masyarakat baik, berarti ia telah memberikan andil di dalam berbagai macam uruannya, tetapi jika masyarakat tidak bisa maka ia harus menyepi dan menyendiri.5) Di sini tampak bahwa Ibnu Bajjah terpengaruh oleh sufi-sufi Muslim di atas keterpengaruhannya dengan Al-Farabi, karena orang yang terakhir ( Al-Farabi – pent ) tidak mengajark kepada kesatuan saja; dan di antara syarat-syarat negeri utama menurut Al-Farabi, ialah individu-individu harus digiring menuju kebahagiaan jika mereka tidak mencapainya. Dan buku          Tadbir Al-Mutawwahid secara global merupakan pembelaan terhadap                 karangan-karangan Al-Farabi dan Ibnu Sina, kecuali bagian yang khusus berkenaan dengan sistem menyepi dan menyendiri, karena ini adalah kecenderungan tasawuf an sich yang menguasainya.

C.    Ajaran Filsafatnya

Ibnu Bajjah adalah ahli yang menyadarkan pada teori dan praktik             ilmu-ilmu matematika, astronomi, musik, mahir ilmu pengobatan dan studi-studi spekulatif seperti logika, filsafat alam dan metafisika, sebagaimana yang dikatakan De Boer dalam The History of Philosophi in Islam, bahwa dia           benar-benar sesuai dengan Al-Farabi dalam tulisan-tulisannya logika dan secara umum setuju dnegannya, bahkan dengan doktrin-doktrin fisika dan metafisikanya.

1.      Materi dan bentuk
Pendapat De Boer bahwa : “Ibnu Bajjah memulai deasumsi bahwa materi itu tidak bisa bereksistensi tanpa adanya bentuk sedangkan bentuk bisa bereksistensi dengan sendirinya, tanpa harus ada materi”. Tapi pernyataan ini salah. Menurut Ibnu Bajjah materi dapat bereksistensi harus ada bentuk. Dia berargumen jika materi berbentuk, maka ia akan berbagi menjadi materi dan bentuk dan begitu seterusnya, ad infinitum. Ibnu Bajjah menyatakan bahwa Bentuk Pertama merupakan suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi yang dikatana sebagai tidak mempunyai bentuk.
2.      Etika
Tindakan manusia menurut Ibnu Bajjah menjadi dua yakni : tindakan hewani dan tindakan manusiawi.
Pertama, tindakan hewani, timbul dikarenakan adanya motif naluri atau hal-hal lain yang berhubungan dengannya, baik dekat maupun jauh.
Kedua, tindakan manusiawi, timbul dikarenakan adanya pemikiran yang lurus dan keamanan yang bersih dan tinggi.
3.      Akal Dan Pengetahuan
Menurut Ibnu Bajjah, pengetahuan yang benar dapat diperoleh melalui akal dan akal ini merupakan satu-satunya sarana yang dapat mewujudkan untuk mencapai kemakmuran dan membangun kepribadiannya. Dengan demikian akal merupakan bagian yang terpenting bagi manusia.
Akal manusia setapak demi setapak mendekati akal pertama dengan :
-          Meraih pengetahuan yang didasarkan pada bukti, yang dalam hal ini akal paling tinggi direalisasikan sebagai bentuk.
-          Memperoleh pengetahuan tanpa mempelajarinya atau berusaha meraihnya.


4.      Jiwa
Menurut Ibnu Bajjah, anggapan yang menyatakan bahwa “materi itu tidak bisa bereksistensi tanpa adanya bentuk, sedangkan bentuk bisa bereksistensi dengan sendiri, tanpa harus ada materi”. Anggapan ini adalah keliru. Karena materi dapat bereksistensi tanpa harus ada bentuk. Ia berpendapat jika materi berbentuk, maka ia akan terbagi menjadi materi dan bentuk pertamai merupakan suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi yang dikatakan sebagai tidak mempunyai bentuk.
Jiwa yang berhasrat itu terdiri atas tiga unsur, yaitu :
-          Hasrat imajinatif yang melaluinya anak keturunan dibesarkan            individu-individu dibawa ke tempat-tempat tinggal mereka dan memiliki rasa sayang, cinta dan yang semacamnya.
-          Hasrat menengah, yang melaluinya timbul nafsu akan makanan, perumahan, kesenian dan ilmu.
-          Hasrat berbicara, yang melaluinya timbul pengajaran, ini merupakan hastrat khusus yang dimiliki oleh manusia, tidak seperti kedua hasrat sebelumnya.
5.      Filsafat Politik
Ibnu Bajjah menulis risalah kecil mengenai pemerintahan Dewan Negara dan pemerintahan Negara – Kota, dalam Tadbir Al-Mutawwahid               ( Rezim Satu Orang ). Sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, Ibnu Bajjah sangat menyetujui politik Al-Farabi. Misalnya, dia menerima pendapat Al-Farabi yang membagi negara menjadi negara yang sempurna dan yang tidak sempurna. Dia juga setuju dengan Al-Farabi yang beranggapan bahwa individu yang berbeda dari sebuah bangsa memiliki watak yang berbeda pula, sebagian dari mereka lebih suka memerintah dan sebagian yang lain lebih suka diperintah. Tapi Ibnu bajjah memberikan tambahan kepada sistem Al-Farabi ketika dia mendesakkan pendapatnya bahwa manusia yang memerintah secara sendirian itu                   ( mutawwahid atau filosuf yang berpikiran tajam ) harus selalu berada lebih tinggi dari orang-orang lain pada kesempatan-kesempatan tertentu.
6.      Tasawuf
Renan berpendapat bahwa Ibnu Bajjah memiliki kecenderungan kepada tasawuf, tapi tentu salah ketika dia menganggap bahwa                 Ibnu Bajjah menyerang Al-Ghazali karena ia menandaskan intuisi dan tasawuf. Sesungguhnya, Ibnu Bajjah mengagumi Al-Ghazali dan menyatakan bahwa metode Al-Ghazali memampukan orang memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, bahwa metode ini didasarkan pada       ajaran-ajaran Nabi suci. Sang sufi menerima cahaya di dalam hatinya. Cahaya di dalam hatinya ini merupakan suatu spekulasi, yang lewat spekulasi itu hati melihat hal-hal yang dapat dipahami seperti orang melihat obyek yang tertimpa sinar matahari lewat penglihatan mata, dan lewat pemahaman hal-hal yang dapat dipahami ini dia melihat semua yang melalui implikasi mendahului mereka atau menggantikan mereka.
Ibnu Bajjah menjunjung tinggi para wali Allah ( auliya’ Allah ) dan menempatkan mereka di bawah para Nabi. Menurutnya, sebagian orang dikuasai oleh keinginan jasmaniyah belaka, mereka yang berada             di tingkat paling bawah, dan sebagian lagi dikuasai oleh spiritualitas kelompok ini sangat langka, dan termasuk dalam kelompok ini Uwais        Al-Qarni dan Ibrahim ibn Adham.

2.      IBNU TUFAIL

A.    Sejarah Hidupnya

Nama lengkapnya Ibnu Tufail ialah Abu Bakar Muhammad Ibn ‘Abd    Al-Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Tufail, dalam tulisan latin, Abubacer. Ia adalah pemuka pertama dalam pemikiran filosofis Muwahhid yang berasal dari Spanyol. Ibnu Tufail lahir pada abad VI H / XIII M di kota Guadix, Propinsi Granada. Keturunan Ibnu Tufail termasuk keluarga suku Arab yang terkemuka, yaitu suku Qais.





B.     Ajaran Filsafatnya

1.      Tentang Dunia
Salah satu masalah filsafat adalah apakah dunia itu kekal, atau diciptakan oleh Tuhan dari ketiadaan atas kehendak-Nya ?. Dalam filsafat muslim, Ibnu Tufail, sejalan dengan kemahiran dialektisnya, menghadapi masalah itu dengan tepat sebagaimana Kant. Tidak seperti para pendahulunya, tidak menganut salah satu doktrin saingannya, pun dia tidak berusaha mendamaikan mereka. Di lain pihak, dia mengecam dengan pedas para pengikut Aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas yang tak kurang mustahilnya dibandingan gagasan tentang rentangan tak terbatas. Eksistensi semacam ini tidak dapat lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan karena itu dapat sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun. Begitu pula konsep creation ex nihilo tidak dapat mempertahankan penelitiannya yang seksama.
2.      Tentang Tuhan
Penciptaan dunia yang berlangsung lambat laun itu mensyaratkan adanya satu pencipta, sebab dunia tidak bisa maujud dengan sendirinya. Juga, sang Pencipta bersifat immaterial, sebab materi yang merupakan suatu kejadian dunia diciptakan oleh satu pencipta. Di pihak lain, anggapan bahwa Tuhan bersifat material akan membaca suatu kemunduran yang tiada akhir yang adalah musykil. Oleh karena itu, dunia ini pasti mempunyai penciptanya yang tidak berwujud benda. Dan karena Dia bersifat immaterial, maka kita tidak dapa mengenali-Nya lewat indera kita ataupun lewat imajinasi, sebab imajinasi hanya menggambarkan          hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera.

C.    Ulasan Terhadap Ibnu Tufail

Pertama kali Ibnu Tufail dikatakan orang berada di suatu tingkat yang ajaib dalam ilmunya, yakni berada dalam tingkat mistik yang penuh kegembiraan. Beberapa orang menganggapnya sebagai orang panties, orang yang menganggap tidak ada beda lagi antara dirinya dengan Tuhan. Anggapan ini ternyata salah. Dia sebenarnya hanya seperti juga Al-Ghazali, merasa telah mencapai tingkatan makrifat yang tinggi seperti katanya : “fakana ma kana mimma lastu adzkuruhu. Fadhonnu khairan wa la tas’al ‘anil khabari”. ( Terjadilah sesuatu yang tak akan ku sebutkan. Akan tetapi sangkalah dia sebagai suatu kebaikan juga, dan jangan tanya tentang beritanya ).
Kesimpulan kritik-kritiknya terhadap filosuf-filosuf Timur ialah Ibnu Tufail memberi kesan bahwa apa yang telah dijelaskan mereka itu belumlah memberikan kepuasan. Dan karena itu pula Ibnu Tufail lalu mencoba menerangkan pendapat filsafatnya dalam cerita Ibarat Hay ibn Yaqzan itu. Maksud menulis cerita itu ialah sebagai jalan untuk menyampaikan hasrat orang yang bertanya tentang derajat kepuasan yang selalu dibayangkan oleh kaum filsafat dan tasawuf.

3.      IBNU RUSYD

A.    Sejarah Hidupnya

Nama lengkapnya adalah Abu Al-Wahid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Rusyd. Ia lahir di kota Cordova pada tahun 1126 M / 520 H.          Ia keturunan dari keluarga yang ahli dalam ilmu fiqh. Ayah dan kakeknya pernah menjabat di Andalusi sebagai kepala pengadilan. Dengan terbekali keagamaan, Ibnu Rusyd menduduki peranan penting dalam studi-studi               ke-Islaman. Beliau mempelajari Al-Qur'an berserta penafsirannya, hadits Nabi, Ilmu fiqh, bahasa dan sastra Arab. Metode belajarnya secara lisan dari seorang ahli ( ‘alim ).
Ibnu Rusyd merevisi buku Malikiah, Al-Muwathai dipelajari bersama ayahnya Abu Al-Qasim dan dapat dihafalnya. Disamping itu, dia mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengetahuan.

B.     Hasil Karyanya

Diantara karangan-karangannya dalam soal filsafat adalah :
a)      Tahafutut – Tahafut
b)      Risalah fi Ta’alluqi ‘Ilmillahi ‘an ‘Adami Ta’alluqihi bil-Juziyat
c)      Tafsiru ma ba’dath – Thabiat
d)      Fashlul – Maqal fi ma Bainal – Hikmah Wasy – Syariah Minal – Ittishal
e)      Al-Kasyfu ‘an Manahijil ‘adilah fi ‘Aqaidi Ahlil Millah
f)        Naqdu Kadhariyat Ibni Sina ‘Anil – Mumkin Lidzatihi wal – Mumkin Lighairihi
g)      Risalah fi – Wujudil – Azali wal – wujudil – Muaqqat
h)      Risalah fi – Aqli wal – Ma’quli

C.    Filsafat Ajarannya

1.      Pencarian Tuhan
Ibnu Rusyd membicarakan filsafat ketuhanan di berbagai karangannya, antara lain pada Tahafut Al-Tahafut  dan Mana-hij Al-Adilah, filsafat ini membahas tentang wujud Tuhan, sifat-sifat-Nya dan           hubungan-Nya dengan alam.
Ibnu Rusyd meneliti berbagai golongan yang timbul dalam Islam. Menurut pendapat dia yang paling terkenal ada 4, yaitu : Asy’ariyah, Mu'tazilah, Batiniah dan Hasyiwiah. Masing-masing golongan mempunyai kepercayaan yang berlainan tentang Tuhan, dan banyak memindahkan kata-kata syara’ dari arti lahirnya kepada takwilan-takwilan yang disesuaikan dengan kepercayaannya. Kemudian mereka mengira bahwa kepercayaan itulah yang merupakan syari’at yang harus dianut oleh semua orang dan barang siapa yang menyimpang darinya berarti kafir atau telah menjadi bid’ah. Sebab terjadinya keadaan tersebut ialah karena mereka sudah menyimpang dari maksud syara’ dan tidak dapat memahaminya.
2.      Alam adalah Qadim dan Hadits
Sebagaimana pada uraian di atas Ibnu Rusyd telah memaparkan tentang tiga wujud. Kedua merupakan wujud yang saling kotradiksi, sedang yang satu adalah wujud yang berada ditengah antara keduanya.
Apabila kita teliti dengan sebaik-baiknya, maka wujud yang tengah-tengah itu kedudukannya ada kemiripan dengan wujud qadim dan ada kemiripan dengan wujud baru.
Bagi mereka yang lebih menguatkan pada segi kemiripan dengan wujud qadim maka mereka menamakannya dengan wujud qadim. Sedang mereka yang menguatkan segi kemiripan dengan wujud baru maka mereka menamakannya dengan wujud baru.
Ibnu Rusyd menambahkan, bahwa sebenarnya alam semesta ini bukan wujud baru dan bukan pula wujud qadim yang sebenarnya. Sedang wujud qadim yang sebenarnya mesti musnah dan wujud yang sebenarnya tidam mempunyai sebab ( illat ) bagi wujudnya. Oleh karena itu ada sementara orang yang menamakan wujud ketiga yakni wujud alam semesta sebagai wujud baru azali, karena zaman itu berkesudahan pada masa lampau. Jadi pemikiran-pemikirna tentang alam tidak terlampau jauh dari suatu hal kebenaran sehingga tidak perlu ada yang dikafirkan.
3.      Kebangkitan Jasmani
Menurut Ibnu Rusyd, apa yang dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam menangkis para filosuf adalah baik sekali. Namun dalam tangkisan itu jiwa harus diperkirakan tidak mati ( tetap hidup ), seperti yang ditunjukkan oleh dalil-dalil pikiran dan syara’. Juga harus diperkirakan bahwa yang akan kembali di akhirat nanti adalah seperti perkara yang terdapat di dalam dunia bukan perkaranya itu sendiri, karena perkara yang telah hilang itu sendiri tidak akan kembali, seperti pendapat Al-Ghazali sendiri.
Dengan demikian pengkafiran dalam masalah kebangkitan jasmani tidak berasalan, karena masalah ini bagi para filosuf adalah persoalan teori. Juga dalam masalah kedua lamanya yaitu tentang Tuhan dalam mengetahui perkara-perkara juziyyat, karena pendapat yang mengatakan Tuhan tidak mengetahui perkara—perkara juziyyat bukan pendapat para filosuf, dan tentang qadimnya alam ada perbedaan antara pengertian qadimnya alam yang dipahami oleh para ulama kalau dengan para filosuf.



4.      Kerasulan Nabi
Mu’jizat menurut Ibnu Rusyd ada dua macam, yaitu : Pertama, mu’jizat luaran ( al karrami ) yakni mu’jizat yang sesuai dengan sifat yang karena seorang Nabi disebut Nabi, seperti menyembuhkan penyakit, membelah lautan dan sebagainya. Kedua, mu’jizat yang sesuai                    ( Al-Immasib ) dengan sifat kenabian tersebut, yaitu syari’at ( peraturan ) yang dibawanya untuk kebahagiaan manusia. Mu’jizat macam pertama sebenarnya hanya menjadi tanda penguat tentang adanya kerasulan. Dan mu’jizat ini adalah sebagai jalan keimanan orang awam terhadap kebabian. Sedang mu’jizat kedua adalah merupakan tanda kerasulan yang sebenarnya, dan mu’jizat terakhir ini sebagai jalan keimanan bagi para ulama sekaligus orang awam dengan kadar kemampuan yang dimilikinya. Namun Ibnu Rusyd menandaskan, bahwa apabila diteliti lebih dalam mengenai syari’at, maka mu’jizat yang kedua itulah yang dijadikan pegangan dalam mengakui kerasulan.
Jadi berbeda sekali pemahaman mu’jizat yang dikemukakan oleh Ibnu Rusyd dengan para ahli kalam. Ibnu Rusyd lebih menonjolkan pada segi rasionalismenya. Meskpun tidak secara tegas-tegas mengingkari mu’jizat luar itu, hanya memberi komentar-komentar tentang kelemahannya terutama ditunjukkan kepada pemikir-pemikir agama.

 

















BAB  III

KESIMPULAN

Ibnu Bajjah adalah ahli yang menyadarkan pada teori dan praktik             ilmu-ilmu matematika, astronomi, musik, mahir ilmu pengobatan dan studi-studi spekulatif seperti logika, filsafat alam dan metafisika, sebagaimana yang dikatakan De Boer dalam The History of Philosophi in Islam, bahwa dia benar-benar sesuai dengan Al-Farabi dalam tulisan-tulisannya logika dan secara umum setuju dnegannya, bahkan dengan doktrin-doktrin fisika dan metafisikanya.
Ibnu Tufail memberi kesan terhadap filosuf-filosuf Timur bahwa apa yang telah dijelaskan mereka itu belumlah memberikan kepuasan. Dan karena itu pula Ibnu Tufail lalu mencoba menerangkan pendapat filsafatnya dalam cerita Ibarat Hay ibn Yaqzan itu. Maksud menulis cerita itu ialah sebagai jalan untuk menyampaikan hasrat orang yang bertanya tentang derajat kepuasan yang selalu dibayangkan oleh kaum filsafat dan tasawuf.
Menurut Ibnu Rusyd, apa yang dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam menangkis para filosuf adalah baik sekali. Namun dalam tangkisan itu jiwa harus diperkirakan tidak mati ( tetap hidup ), seperti yang ditunjukkan oleh dalil-dalil pikiran dan syara’. Juga harus diperkirakan bahwa yang akan kembali di akhirat nanti adalah seperti perkara yang terdapat di dalam dunia bukan perkaranya itu sendiri, karena perkara yang telah hilang itu sendiri tidak akan kembali, seperti pendapat Al-Ghazali sendiri.
Demikianlah pembahasan makalah kami yang berkenaan dengan Kajian Filsafat Islam di Dunia Barat, dimana ajarannya lebih menonjolkan pada pemahaman rasionalis. Untuk itu kami dari pemakalah pasti tidak terlepas dari kekurangan, kami mengharapkan kritik, saran dan pengetahuan yang lainnya. Atas segala kekurangan dan kesalahan kami mohon maaf.





DAFTAR  PUSTAKA


Ø  Dr. Ibrahim Madkour, Filsafat Islam Metode dan Penerapan, Rajawali Pers,     Jakarta, 1987.
Ø  Drs. H. A. Mustofa, Filsafat Islam, Pustaka Setia, Bandung, 1997, cet. I.
Ø  Munk, Langues de Philosophie Juive et Arabie, Paris, 1859.


1) Dr. Ibrahim Madkour, Filsafat Islam Metode dan Penerapan, Rajawali Pers, Jakarta : 1987, hal. 53.
2) Drs. H. A. Mustofa, Filsafat Islam, Pustaka Setia, Bandung, 1997, cet. I.
3) Ibid, hal. 258.
4) Munk, Langues de Philosophie Juive et Arabie, Paris, 1859, hal. 410.
5) Ibid, hal. 398 – 399.

0 komentar:

Poskan Komentar

Followers