Pages

Rabu, 15 Februari 2012

biografi ibnu qayyim al-jauziyah


BIOGRAFI IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

A.    Nama, Tempat Tanggal Lahir dan Silsilah Keluarga
Nama Ibnu Qayyim adalah Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub bin Sa’d bin Hariz bin Makki, Zainuddin Az-Zur’i Ad-Dimasqi Al-Hambali.
Nama kuniyah (panggilan) beliau adalah Abu Abdillah, sedangkan nama laqab atau julukan (gelar) adalah Syamsuddin. Namun beliau lebih terkenal dengan nama Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah yang diringkas dengan sebutan Ibnul Qayyim.[1]
Ayahanda beliau, Syaikh Abu Bakar bin Ayyub Az-Zar’i mendirikan Madrasah Al-Jauziyah di Damaskus, sehingga selanjutnya keluarga dan keturunan beliau terkenal dengan sebutan ”Al-Jauziyah”. Syaikh Abu Bakar berkebangsaan Az-Zar’i, kemudian pindah ke Damaskus.
Ibnul Qayyim lahir pada tanggal 7 Shafar 691 Hijriyah. Mengenai tempat lahir beliau, ada yang mengatakan di Zar’a, ada juga yang menyebutkan di Damaskus.

B.     Setting Sosial
Ibnul Qayyim adalah orang yang pandai dan menguasai masalah madzhab, ilmu-ilmu keislaman, ushuludin, tafsir, hadits, fikih dan ushul fikihnya, bahasa Arab, ilmu kalam, nahwu, dan biografi. Selain itu beliau juga pandai mencerna perkataan para ahli sufi, isyarat-isyarat dan rahasia-rahasianya. Beliau seorang yang brilian serta sering memberikan fatwa.
Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kembali dari Mesir pada tahun 712 H, beliaulah yang selalu menyertainya sampai Syaikh wafat. Dari Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim menyerap ilmu, menggantikan sang guru mengajar sehingga beliau mendapat tambahan ilmu yang luar biasa banyaknya, sehingga murid-murid beliau pun semakin banyak.
Beliau seorang yang banyak beribadah dan melakukan tahajud, shalatnya panjang, banyak berdzikir dan beristighfar, serta sangat tinggi mahabbah (kecintaan)nya kepada Allah. Banyak membaca Al-Qur’an dan menyelami isinya. Beliau sangat baik bacaan dan akhlaknya, sangat penyayang, sangat tawadhu’, tidak pernah dengki kepada orang lain dan tidak pernah menyakiti mereka.
Ibnul Qayyim mulai mencari ilmu sejak berumur tujuh tahun. Dari salah seorang gurunya, Asy-Syihab Al-’Abir, beliau mulai belajar dengan cara sima’ (memperdengarkan bacaan di hadapan sang guru). Beliau adalah seorang yang haus ilmu pengetahuan. Seorang yang bersungguh-sungguh dalam belajar dan banyak merenung. Berguru dari para syaikh yang bermahdzab Hambali maupun yang tidak.
Beliau beberapa kali melakukan ibadah haji dan beberapa saat tinggal di Makkah. Ibnul Qayyim pernah diterpa cobaan sebagaimana yang diterima guru beliau, Ibnu Taimiyah. Pernah diasingkan bersama salah seorang guru beliau yang lain, Syaikh Taqiyuddin di Qal’ah, kemudian diarak dengan dinaikkan di atas unta yang dipukul dengan cemeti yang ujungnya diberi mutiara. Juga pernah dipenjara dan disiksa karena fatwa-fatwa beliau dalam beberapa hal, di antaranya:
  • Masalah thalak tiga dengan satu lafal.
  • Fatwa beliau tentang diperbolehkannya berlomba tanpa muhallil.
  • Ketidaksetujuannya berziarah ke makam Al-Khalil.
Ibnul Qayyim meninggal pada malam Kamis, tanggal 13 Rajab saat berkumandang adzan shalat isya’ pada tahun 751 hijriyah, pada usia ke 60 tahun. Jenazah beliau dishalatkan pada hari berikutnya setelah shalat dzuhur di masjid Al-Umawi, kemudian dishalati di masjid Jarah. Banyak penziarah yang mengiringi upacara pemakamannya; para qadhi, pejabat, orang-orang shalih, baik yang khusus maupun yang umum. Orang-orang berebutan mengusung peti jenazahnya. Beliau dimakamkan di Damaskus di pekuburan Al-Bab Ash-Shaghir di samping makam kedua orangtuanya.

C.    Guru-Guru Ibnu Qayyim
Guru-guru Ibnul Qayyim, antara lain:
  • Ayahandanya sendiri, Abu bakar bin Ayyub Qayyim Al-Jauzi
  • Ibnu Abdiddaim
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
  • Asy-Syihab Al-Abir
  • Ibnu Asy-Syirazi
  • Al-Majd Al-Harrani
  • Ibnu Maktum
  • Al-Kuhhali
  • Al-Baha’ bin Asakir
  • Al-Hakim Sulaiman Taqiyuddin Abu Fadl bin Hamzah
  • Syarafuddin bin Taimiyah, saudara Ibnu Taimiyah
  • Al-Mutha’im
  • Fathimah binti Jauhar
  • Majduddin At-Tunisi
  • Al-Badar bin Jama’ah
  • Abu Al-Fath Al-Ba’labaki
  • Ash-Shaf Al-Hindi
  • Az-Zamlakani
  • Ibnu Muflih
  • Al-Mizzi.

D.    Murid-Murid Ibnu Qayyim
Adapun murid-murid beliau, antara lain :
  • Al-Burhan bin Al-Qayyim Al-Jauzi, anak beliau bernama Burhanuddin
  • Syarafuddin bin Al-Qayyim, anak beliau bernama Abdullah bin Muhammad
  • Ibnu Katsir
  • Ibnu Rajab
  • As-Subki
  • Adz-Dzahabi
  • Ibnu Abdulhadi
  • An-Nablusi
  • Al-Ghazi
  • Ali bin Abdulkafi bin Ali bin Tamam As-Subki
  • Al-Fairuz Abadi Al-Muqri.

E.     Karya-Karya Ibnu Qayyim
Tulisan-tulisan Ibnul Qayyim yang telah dicetak, antara lain :
  • Ijtima’ Al-Juyush Al-Islamiyah ’ala Ghazwil Mu’aththalah wa Al-Jahmiyah.
  • Ahkam Ahli Adz-Dzimmah.
  • Asma’ Mu’allafat Ibni Taimiyah.
  • I’lam Al-Muwaqqi’in ’an Rabbil ’Alamin.
  • Ighatsah Al-Lahfan min Mashayid Asy-Syaithan.
  • Ighatsah Al-Lahfan fi Hukmi Thalaq Al-Ghadhban.
  • Badai’ Al-Fawaid.
  • At-Tibyan fi Aqsam Al-Qur’an.
  • Tuhfah Al-Maudud fi Ahkam Al-Maulud.
  • Tahdzib Mukhtashar Sunan Abi Dawud.
  • Jala’ Al-Ifham fi Shalah wa As-Salam ‘ala Khairil Anam.
  • Hadi Al-Arwah ila Bilad Al-Afrah.
  • Hukmu Tarik Ash-Shalah.
  • Ad-Da’wa wa Ad-Dawa’.
  • Ar-Risalah At-Tabukiyah.
  • Raudhatul Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin.
  • Ar-Ruh.
  • Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad.
  • Syifa’ Al-‘Alil fi Masa’il Al-Qadha’ wa Al-Qadar wa Al-Hikmah wa At-Ta’til.
  • Ath-Thib An-Nabawi.
  • Thariq Al-Hijratain wa Bab As-Sa’adatain.
  • Ath-Thuruq Al-Hakimah fi As-Siyasah Asy-Syar’iyyah.
  • ‘Iddah Ash-Shabirin wa Dakhirah Asy-Syakirin.
  • Al-Furusiyah.
  • Al-Fawaid.
  • Al-Kafiyah Asy-Syafiyah fi Al-Intishar li Al-Firqah An-Najiyah.
  • Al-Kalam Ath-Thayyib wa Al-‘Amal Ash-Shalih.
  • Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in.
  • Miftah Dar As-Sa’adah wa Mansyur Wilayah Al-Ilmi wa Al-Iradah.
  • Al-Manar Al-Munif fi Ash-Shahih wa Adh-Dha’if.
  • Hidayah Al-Hiyari fi Al-Yahud wa An-Nashara.




Diringkas dari buku:
Syaikh Ahmad Farid, 60 BIOGRAFI ULAMA SALAF,  (Jakarta : Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, 2008), cet. III, h. 12.


Catatan singkat:
Kalau ingin membaca lebih lengkap, beli bukunya, yaaaaaa....! ^_^
Pada bulan Agustus 2008, harga masih Rp.128.000,- (belum diskon),
di Toko Buku IHYA’, Yogyakarta.




ath-Thuruq al-Hukmiyyah fi as-Siyasah asy-Syar’iyyah

Adalah Ibn Qayyim al-Jauziyah seorang fakih dan teolog Hanbali yang tak bisa dipandangan sebelah mata. Sebab, ia telah memberikan banyak kontribusi pada dunia pemikiran Islam. Hal ini dibuktikan dengan banyak karya yang telah lahir dari tangan sucinya. Seperti ‘Ilam al-Mauqi’în, ar-Ruh, Ahkam Ahl adz-Dzimmah, ath-Thibb an-Nabawiy, Zad al-Ma’ad fi Hady al-Khair al-‘Ibad, ath-Thuruq al-Hukmiyyah fi as-Siyasah asy-Syar’iyyah, dan lain-lain.
Nama lengkap Ibn Qayyim al-Jauziyyah adalah al-Imâm Syams ad-Dîn Abû ‘Abdillah Muhammad ibn Abû Bakar al-Hanbaliy ad-Dimisyqiy. Tapi kemudian lebih dikenal dengan nama Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Ia lahir di Damaskus 691 H, dan wafat 751 H.

Pada umur enam belas tahun Ibn Qayyim belajar pada Ibn Taimiyyah, dan menjadi muridnya yang paling cerdas dan paling terkenal. Karena kecerdasanya inilah kemudian ia menjadi orang yang meneruskan pemikiran-pemikiran gurunya. Di samping ia menjadi murid Ibn Taimiyyah, ia juga pernah menjadi murid seorang ulama yang terkenal pada zamannya, yaitu Zain ad-Dîn Ibrâhîm ibn Muhammad asy-Syairazî.

Karena alasan-alasan politik Ibn Qayyim dimasukan ke dalam penjara bersama gurunya, Ibn Taimiyyah di Damaskus. Sampai Ibn Taimiyyah wafat, ia belum juga dibebaskan. Di penjara ia mengalami penyiksaan sebagaimana yang dialami gurunya. Selama dalam penjara, waktunya dihabiskan untuk membaca Al-Quran dan merenungi maknanya sehingga dari pembacaan dan perenungan terhadap Al-Quran ia memperoleh pengetahuan yang amat banyak.  

Dari sekian banyak karya Ibn Qayyim yang banyak memberikan pengaruh pada dunia pemikiran Islam pada saat itu bahkan mungkin sampai sekarang adalah dalam bidang fikih. Hal ini memang sangat wajar karena ia adalah seorang faqih dari Madzhab Hanbali. Sehingga di Damaskus ia menjadi seorang fâkih yang sangat dihormati dan segani. Dan salah satu bukunya dalam bidang fikih yang terkenal adalah ath-Thuruq al-Hukmiyyah fi as-Siyasah asy-Syar’iyyah.

Buku ini sebagian besar berisi tentang hukum-hukum yang sering banyak dibicarakan oleh para hakim Islam, dan tak ketinggalan pula dalam buku ini kita akan disuguhkan sebagian keputusan-keputusan hukum yang pernah dibuat khulafâ` ar-rasyidîn, dan khalifah-khalifah setelahnya.

Dalam buku ini ada satu hal yang menarik untuk dicermati, yaitu ketika Ibn Qayyim mengutip pernyataan Imam Syafii, “la siyasata illa ma wafaqa asy-syar” (Tak dikatakan siyâsah kecuali sesuai dengan syara'). Menurut Ibn Qayyim, jika yang dimaksud dengan pernyataan Imam Syafi'i, “illa ma wafaqa asy-syara'” adalah “tidak bertentangan dengan apa yang diucapakan oleh syara maka ini adalah benar. Tetapi jika penyataan tersebut diartikan “tak ada siyâsah kecuali sebagaimana yang dikatakan secara tekstual oleh syara” (lâ siyasah illa ma nathaqa bihi asy-syara’), maka pemahaman seperti itu adalah keliru [H. 17].

Dalam konteks ini saya melihat ketidaksetujuan Ibn Qayyim atas formalisasi syariat Islam. Hal ini jelas terlihat ketika Ibn Qayyim menganggap keliru orang yang memahami bahwa tak ada siyasah kecuali apa yang dikatakan secara tekstual oleh syara. Lebih lanjut bisa dikatakan bahwa pemahaman “tak ada siyasah kecuali apa yang dikatakan secara tekstual oleh syara” sama dengan menganggap keliru para sahabat. Sebab, dalam prakteknya sering kali para sahabat itu menabrak ketentuan tekstual syara.

Misalnya, ketika Umar menolak untuk memberikan zakat pada muallafatu qulubuhum, dan pembakaran mushaf yang dilakukan khalifah Usman ibn Affan. Kedua keputusan yang diambil oleh kedua khalifah tersebut secara kasat mata menabrak ketentuan tekstual syara. Tetapi harus diingat bahwa apa yang dilakukan mereka berdua didasarkan pada pertimbangan kemaslahatan umat Sedang kemaslahatan umat merupakan tujuan utama diturunkannya syari'at. Hal ini sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Ibn Qayyim dalam kitabnya yang lain, “Bahwa syariat dibangun di atas prinsip kemaslahatan hamba…” [I’lam al-Mauqi’in, jilid, III, hlm. 14].

Jadi, pada dasarnya apa yang dilakukan kedua khalifah tersebut tidak bertentangan dengan syariat meski secara lahiriah menabrak bunyi teks yang ada. Dan kebijakan kedua khalifah tersebut dibuat dengan tidak melihat bunyi teks yang ada. Tetapi dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada di balik teks itu sendiri, yaitu kemaslahatan publik.

Dengan demikian siyâsah -sebagaimana pernyataan Ibn ‘Aqîl yang dikutip oleh Ibn Qayyim- adalah kebijakan yang lebih mengedepankan kemaslahatan dan menjauhkan kehancuran publik, meskipun kebijakan tersebut tidak pernah dibuat Rasulullah dan tak dijelaskan wahyu” (as-siyasah ma kana fi’lan yakunu ma’ahu an-nas aqrab ila al-shalah wa ab’ad ila al-fasad wa in lam yadha’hu ar-rasul wa la nazala bihi wahy). [H. 17].

Lantas, apa yang dimaksudkan dengan syariat itu sendiri? Bagi Ibn Qayyim syariat adalah keadilan. Sebab, Allah mengutus para rasul dan menurunkan wahyu-Nya untuk menegakkan keadilan di bumi dan langit. Jadi, keadilan termasuk dari inti syariat.

Karenanya, lebih lanjut Ibn Qayyim mengatakan, “Apabila tanda-tanda keadilan dan wajahnya telah tampak dengan jelas dengan jalan apapun, maka di situlah syariat Allah dan agama-Nya”. [H. 18]. Dalam kitab I’lam al-Mauqi’in, Ibn Qayyim bahwa syariat bukan hanya totalitas keadilan, tetapi juga kasih sayang, dan totalias kemaslahatan. Dan segala hal yang keluar dari nilai-nilai keadilan, kasih sayang dan kemaslahatan bukan termasuk dari syariat.

Jelas sudah bahwa penegakan keadilan merupakan inti dari syariat itu sendiri. Dan keadilan apapun alasannya harus tegakkan di bumi karena ia merupakan bagian dari misi yang diemban para rasul. Singkat kata, formalisasi syariat tidaklah penting, sebab yang terpenting adalah penegakkan nilai-nilai yang dikandung syariat itu sendiri.

Satu hal yang perlu di ingat adalah bahwa semua hukum-hukum yang dijelaskan dalam buku ini adalah merupakan hasil ijtihad. Sehingga keputusan hukum yang telah diambil bukan merupakan keputusan final. Dan yang terpenting bagi kita adalah menganbil semangat yang melatar belakangi munculnya keputusan-keputusan hukum tersebut. Yaitu, semangat keadilan, kemaslahatan, dan kasih sayang.   

Rasanya anda tak akan pernah kecewa jika membaca secara tuntas buku ini, sebab buku ini merupakan buku yang sangat bagus yang dtulis dari kalangan Hanbali dan di dasari dengan semangat keadilan, kemaslahat, dan kasih sayang. Selamat membaca…

*oleh : Mahbub Ma’afi Ramdlans

Tentang Buku
Judul       
 : 
 ath-Thuruq al-Hukmiyyah fi as-Siyasah asy-Syar’iyyah
Penulis 
 :
 Ibn Qayyim al-Jauziyyah
Penyunting 
 :
 al-Ustdadz Sayyid Imran
Penerbit
 :
 Dar al-Hadîts-Kairo
Tahun  
 :
 1423 H/ 2002 M
Tebal  
 :
 286 hlm. 



Sekilas Tentang ibnu Qayyim Al Jauziyah

Kedudukan Keilmiahan ibnu Qayyim
Bagi yang telah akrab denga kehidupan ibnu qayyim, tahu kehidupannya bagaikan pohon yang memiliki akar dan cabang yang seimbang. Pohon itu hidup dengan memakan makanan yang bersih dan tumbuh dengan cabang yang mengarah ke segala penjuru sehingga menghasilkan buah yang banyak. Sungguh suatu kehidupan yang mendapatkan penuh anugrah, sehingga memberikan manfaat dan buah yang melimpah.
ibnu Qayyim hidup dalam nuansa ilmiah total. Ia mempergunakan seluruh waktunya untuk menuntut ilmu dan memperdalam pokok-pokok ajaran islam serta memerangi atheisme, kebatilan, dan penyelewengan. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk memerangi masalah syubhat yang berkembang di sekitar islam. Ia memegang teguh akidah para salaf, mengiikuti jejak gurunya, Ibnu Taimiyah dan membebaskan pokok-pokok ajaran islam yang telah berbaur denga bid'ah dan kufarat.

Ia sangat gigih memerangi taklid buta dan menyerukan kebebasan berfikir, namun masih tetap berpegang teguh pada pokok-pokok ajaran islam dan akidah para salaf. Ia juga memiliki pemikiran dan peradaban yang bermacam-macam, serta menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan, apalagi ilmu tafsir, fikih, dan ilmu hati.

Jika peradaban islam dipenuhi dengan nama-nama ulama ang alim dan pemikir-pemikir besar, maka nama ibnu Qayyim termasuk salah satu dari mereka.

Catatan Biografi

Nama Lengkapnya adalah Muhammad bin Abi bakar bin Ayub bin Sa'd Ar-Ruz'I Ad-Dimasqy, Abu Abdillah, Syamsuddin. Lahir pada tahun 691 hijriyah dan berguru kepada Ash-Shihab An-Nabilisy Al-'Abid, dan Qadhi Taqiyuddin Sulaiman, Fathimah bintu Jauhar, 'Isa al-Muth'im, Abu Bakar ibn 'Abd Ad-Daim dan kepada para jamaah, sehingga benar-benar memahami madzhabnya, menguasai dan berfatwa untuk menggantikan posisi gurunya, syaikh Taqiyuddin.

Ia telah diuji berkali-kali dan diasingkan oleh gurunya Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dalam sebuah kamar guna mendapatkan materi terakhir darinya dan tidak diperkenakan keluar darinya higga Ibnu Taimiyah meninggal dunia. Selama masa pengasingan itu ia menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Qur'an, merenung, dan berfikir sehingga Allah banyak membukakan banyak pintu kebaikan kepadanya dan membuahkan kepekaan rasa dan temuan-temuan kebenaran. Oleh karena itu, ia sangat menguasai ilmu para ahli ma'rifatdan masuk ke dalam relung-relung keilmuan mereka, dan seluruh tulisannya dipenuhi dengan masalah-masalah tersebut.

Ia telah menunaikan ibadah haji dan berkunjung ke Makkah berkali-kali. Penduduk Makkah merasa takjub dan selalu mengenangnya karena ketekunannya dalam beribadah dan tekadnya yang kuat untuk melakukan ibadah thawaf.

Banyak orang yang telah menimba ilmu darinya ketika ia telah menginjak usia senja hingga meninggal dunia. Para ulama besarpun juga menghargai dan mengirimkan salam kepadanya.

ibnu Qayyim meninggal dunia pada waktu 'isya malam kamis, tanggal 31 rajab tahun 751 Hijriyah. Kemudian dishalatkan besok harinya setelah dzuhur di masjid jami Jarah dan dikubur di kuburan Al-Bab Ash-Shagir, yang disaksikan oleh banyak orang.
Ibnu Qayyim Berguru Kepada Ibnu Taimiyah

Ibnu Qayyim telah berguru kepada Ibnu Taimiyah, menyerap seluru ilmunya, berdialog dengannya dan mendebatnya serta menjaganya. Keilmuan yang banyak diserap darinya adalah ilmu fiqih khususnya dalam masalah talaq, kebebasan untuk berfatwa dan kaidah-kaidahnya. Ibnu Qayyim banyak menulis masalah-masalh fiqih dalam dua tulisannya I'lam Al-Muwaqi dan Zad Al-Ma'Ad

Ibnu Qayyim memperdalam pendapat Ibnu Taimiyah setelah ia kembali ke Mesir pada tahun 712 Hijriyah. Jika fokus perhatian Ibnu Taimiyah pada masa hidupnya dalam masalah fiqih, fatwa dan akidah, maka Ibnu Qayyim mengambil fiqih nya dan menggunakan metodologinya.
Teori dan Peraktek menurut Ibnu Qayyim

Banyak pemikir dan ulama yang memisahkan antara teori dan praktek, artinya apa yang ditulis dan dikatakan adalah sesuatu, sedangkan apa yang dikerjakan dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuatu yang lain. Para ulama dan pemikir yang memiliki pendapat seperti ini bukanlah ulama dan pemikir yang patut dieladani.

Maka orang yang bisa diteladani haruslah orang yang memiliki keseimbangan antara ilmu dan amal adatu antara teori dan praktek.

Para penulis sejarah ulama dan pemikir islam tahu bahwa Imam Ibnu Qayyim termasuk ulama dan pemikir yang memadukan antara teori dan praktek atau antara ilmu dan amal. Hal ini dapat dilihat dari tulisan-tulisan Ibnu Qayyim dari satu sisi dan sejarah kehidupannya dari sisi lain. Keduanya memiliki kesamaan dan keserasian antara pemikiran dan prakteknya atau antara perkataan dan perbuatannya.

Banyak sekali saksi dan bukti yang dapat menunjukkan hal ini. Tapi dalam hal ini, cukup bagi kita mengetahui apa yang diserukan Ibnu Qayyim dalam tulisan-tulisannya, "Kita harus beragama secara benar, memiliki akhlak ang baik, zuhud, wara', dan memperbanyak ibadah." Kemudian kita lihat dalam kenyataan hidupnyabagaimana Ibnu Qayyim menerapkan dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakan dan diyakininya. Banyak referensi yang menyebutkan bahwa ia memiliki sikap yang tenang, kuat berfikir, mengambil ilmu, keikhlasan dan keimanan gurunya serta tidak mengambil darinya sifat-sifat yang negatif. Ibnu Kasir, tentang Ibnu Qayyim mengatakan : " Ibnu Qayyim memiliki bacaan dan tabiat yang baik, mencintai sesama manusia, dan tidak pernah dengki kepada orang lain, tidak pernah menghina, tidak menyebar aibnya, dan tidak merasa iri kepada siapapun. Saya termasuk orang yang paling dekat dengannya dan mencintainya. Saya tidak pernah menemukan pada masa kami, orang yang paling banyak ibadahnya dibandingkan dengannya. Ia senang sekali memanjangkan shalatnya, sujud dan ruku'nya."

Ibnu Qayyim juga memiliki pengetahuantentang tasawuf secara mendalam, bukan diperoleh dari gurunya, melainkan sebagai titik berangkat untk beribadahdan sebagai arah untuk berzuhud, serta untuk memahami isi agama dalam engertian wara'. Dalam bukunya " Madariju As=Salikin fi Maqami Iyyaka Na' budu wa iyyaka Nasta'in ," Ilmu syariat dan ilmu hakikat dipertemukan sehinggan mendapat pemahaman keagamaan yang lurus,pemikiran yang tegak, dan akhlak yang mulia.

Peninggalan Keilmuan

Tulisan-tulisan Ibnu Qayyim merupakan hasil pemikiran yang mendalam, perenungan yang kuat, memiliki susunan yang baik, mmiliki bab-bab yang berurutan, memiliki pemikiran yang cemerlang dan memiliki penjelasan yang gamblang. Tulisan-tulisan itu merupakan kumpulan antara kedalaman berfikir dan jauhnya jangkauannya, tanpa pemborosan kata dan pemaparan yang berbelit-belit.

Diantara buku-buku yang ditinggalkan Kepada kita adalah: " Ahkam Ahli Adz-Dzimmah, Miftahu Daris Sa'adah, Zadul Ma'ad, Madarijs Salikin, I'lamul Muqinin, Tafsirul Mu'awwidzatain, Ar-Ruuh, Raudatul Muhibbin, Hadil Arwahi Ila Biladil Afrah, Ighatsatul Lahfan, Al-Jabul Kafi, Tariqul Hijratain, 'Iddhatush Shabirin, dan Hidayatul Hiyary."

Tanggapan Para Ulama dan Sejarawan

Berikut akan kmi paparkan pendapat para ulamadan sejarawan tentang keilmuan Ibnu Qayyim, keutamaan, ketakwaan, dan kezuhudannya, serta tidak ketinggalan juga kedudukan, posisi, dan kemuliaannya.

Al-Qadhi Burhanuddin Az-Zarymengatakan: "Tidak ada di bawah langit ini orang yang memiliki keluasan ilmu sepertinya. "

Al-Alamah Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan," Syamsuddi Abu Abdillah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, shaikh kita, adalah seorang faqih, ahli ushu, muffasir, ahli nahwu, dan seorang yang arif. "

Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Mukhtashar mengatakan, " Ibnu Qayyim sangat memperhatikan matan hadirs dan rijalnya. Ia banyak menyibukkan diri dalam bidang fiqih dan memiliki pendapat-pendapat yag cemerlang. Disamping itu ia juga ahli dalam bidang fiqih dan ushul."

Ibnu Katsir berkata, " Ibnu Qayyim berpegang pada dalil-dalil yang benar, mengamalkannya, tadak mengabaikan pendapat orang lain, berpegang teguh kepada kebenaran dan tidak takut kepada siapapun. "[]
Sumber:
Al-Fawa'id, Menuju Pribadi Takwa.
http://www.geocities.com/big_bang_inspiration/qoyyim.htm

AL-IMAM IBNU AL-QAYYIM AL-JAUZIYAH (691H-751H)

Beliau adalah al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar bin Ayub ibnu Hariz az-Zar’i ad-Dimasyqi. Populer dengan sebutan Ibnu Qayyim al-Jauziyah, nisbat kepada madrasah yang dibangun oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdur Rahman bin Ali bin al-Jauzi, dikarenakan ayahnya adalah salah seorang yang bertanggung jawab pada madrasah tersebut.

Kelahirannya
Beliau Rahimahullah dilahirkan dalam sebuah rumah yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan keutamaan pada tanggal 7 Safar tahun 691 H, di desa Zar’i Hauran, yang terletak 55 mil sebelah timur damaskus.

Sifat-sifatnya
Beliau senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan Hadits yang shahih dan memahami keduanya dengan pemahaman yang paling benar, yaitu sesuai dengan pemahaman para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka setelahnya.

Di dalam berbagai bukunya tercermin sikapnya yang teguh kepada Al-Qur’an, konsisten dalam mempelajarinya, merenungkan ayat-ayatnya, menjelaskan nilai sunnah yang shahih, menyingkap berbagai kemusykilan yang ada dan esensi hadits sebagai penjelasan Al-Qur’an

Guru-gurunya
Ia berguru bidang gramatika Arab kepada Ibnu Abi al-Fatah al-Ba’bi, kepadanya beliau belajar kitab al-Mulkhkhas karya Abi al-Baqa’, lalu al-Kafiyah asy-Syafiyah dan sebagian at-Tashil.
Kepada syaikh Majduddin at-Tunisi beliau belajar sebagian kitab al-Muqarrib karya Ibnu Ushfur.

Ia belajar bidang ushul dan fiqih kepada Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Harani. Kepada mereka ia mempelajari kitab ar-Raudhah karya Ibnu Qudamah al-Muqaddasi, al-Ahkam karya al-Aamidi, al-Muhashshil, al-Mahshul, dan al-Arba’in karya ar-Razi, serta al-Muharror karya Ibnu Taimiyah al-Jadd

Ia senantiasa mendampingi (mulazamah) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah semenjak kepulangannya dari Mesir tahun 712 H, sampai wafatnya tahun 727 H.

Murid-muridnya
Diantara murid-muridnya antara lain:
1. Al-Imam al-Hafizh Zainuddin Abu al-Farai Abdur Rahman bin Ahmad bin Rajab al-Baghdadi.
2. Al-hafizh Imaduddin Isma’il bin Umar bin Katsir al-Bashrawi ad-Dimasyqi (Ibnu Katsir)
3. Asy-Syaikh al-Imam al-Hafizh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad Ibnu Ahmad bin Abdul hadi bin Abdul Hamid bin Abdul Hadi bin Yusuf bin Muhammad bin Qudamah al-Muqaddasi al-Jamma’ili as-Shalani
4. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Qadir bin Muhyiddin Utsman ibnu Abdil Rahman an-Nabalisi al-Hanbali.
5. Ibrahim (anaknya)
6. Syarafuddin Abdillah (anaknya)

Karya-karyanya
Karyanya mencapai 60 lebih dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sebagian berukuran besar (dalam beberapa jilid) dan sebagian yang lain dalam satu jilid. Kesemuanya adalah karya yang sangat bagus dan bermanfaat di bidangnya.

Dalam bidang fiqih dan Ushul, ia menulis: I’lam al-Muwaqqi’in an-Rabbil ‘Alamiin, ath-Thuruq al-Hukmiah fi as-Siyasah asy-Syar’iyah, Ighatsah al-Lahfan fi Maka’id asy-Syaithan, Tuhfah al-Maudud fi Hikam al-Maulud, Ahkam Ahli adz-Dzimmah dan al-Furusiah.

Dalam bidang hadits dan sejarah hidup Rasulullah, ia menulis: Tahdzib Sunan Abi Daud wa Idhahu ‘Ilaihi wa Musykilatihi, Zad al-Ma’ad fi hadyi Khairil ‘Ibad. Dalam bidang aqidah beliau menulis: Ijtima’u al-Juyusyi al-islamiyah ala Ghazwi al-Mu’atthilah wal Jahmiyah, ash-Shawa’iq al-Mursalah ala al-Jahmiyah wal Mu’atthilah, Syifa’ul Alil fi Masa’ili al-Qadha’i wal Qadari wal Hikmati wat Ta’lil, Hidayah al-Hiyara min al yahudi wan Nashara, Haadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah, dan Kitab ar-Ruh.

Dalam bidang akhlak dan tazkiyah, ia menulis Madarij as-Salikin, Iddatus Shobirin wa Dzakhiratus Syakirin, ad-Da’ wa ad-Da’wah, dan al-wabil ash-Shayib min al-Kalim at Thayyib.

Sementara untuk disiplin ilmu yang lain beliau menulis: at-Tibyan fi Aqsami al-Qur’an, Bada’i al-Fawa’id, al-Fawa’id, Jala’ul Afham fis-Shalah was Salam ala Khairul Anam, Raudhah al-Muhibbin, Thariqul Hijratain wa Bab as-Sa’adatain, Miftah ad-Dar as-Sa’adah, dan kitab yang lain yang memberi kontribusi sangat besar dalam khazanah keilmuan Islam.

Di antara perkataan-¬perkataannya
Ia menafsirkan jalan yang lurus seraya mengatakan, “Itulah jalan Allah yang telah dibangun bagi para hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya sebagai media hamba untuk sampai kepada-Nya, yaitu dengan memberikan ‘ubudiyah hanya kepada-Nya dan ketaatan kepada Rasul-Nya. Karenanya tidak boleh menyekutukan-Nya dengan seseorang dalam ubudiyah dan keta’atan ini. Itulah esensi dan kandungan syahadat “tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Wafatnya
Beliau wafat pada penghujung waktu Isya’ , malam kamis 23 rajab 751 H. Keesokan harinya ia dishalati di Masjid Jami’ Damaskus, kemudian dishalati lagi di Masjid Jami’ al-Jarrah, di dekat pemakaman di mana ia akan dimakamkan yaitu di Bab ash-Shaghir yang sangat populer hingga sekarang.
http://eldrazit.multiply.com/reviews/item/44



[1] Syaikh Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf,  (Jakarta : Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, 2008), cet. III, h. 12.

0 komentar:

Poskan Komentar

Followers