Pages

Rabu, 15 Februari 2012

rujuk dan talak


RUJUK SESUDAH TALAK

Talak itu ada 2 macam yaitu talak ba’in dan talak raj’i. Demikian juga dengan hukum rujuk, oleh karena itu dalam bab ini ada 2 pembahasan. Pertama hukum rujuk pada talak raj’i dan kedua hukum rujuk pada talak ba’in.
1)      Hukum rujuk pada talak raj’i.
Umat muslim sependapat bahwa suami mempunyai hak untuk merujuk mantan isteri pada talak raj’i. Selama masa iddah tanpa mempertimbangkan ijin atau persetujuan isteri. Talak raj’i terjadi dengan syarat isteri sudah pernah digauli. Fuqoha bersepakat rujuk dapat terjadi dengan adanya perkataan ( qaul ) dan saksi.
Fuqoha berbeda pendapat tentang : Apakah saksi merupakan syarat sah rujuk atau tidak ? dan apakah rujuk sah dengan bersetubuh ?
a)      Saksi dalam rujuk
-          Menurut Imam Malik bahwa saksi itu sunah.
-          Menurut Imam Syafi’i bahwa saksi itu wajib.
b)      Cara merujuk dan bolehkan merujuk dengan persetubuhan.
-          Menurut Imam Syafi’i rujuk hanya dapat terjadi dengan perkataan ( qaul ) hal ini disamakan dengan perkawinan yang harus ada persaksian didalamnya dan persaksian hanya tidak dapat terjadi kecuali dengan perkataan.
-          Ada pendapat yang menyatakan rujuk dapat terjadi dengan persetubuhan dan dalam hal ini ada dua pendapat.
-          Menurut Imam Malik rujuk dengan persetubuhan dianggap sah bila hal ini disertai dengan niat.
-          Menurut Abu Hanifah rujuk dengan persetubuhan dianggap sah ketika disertai niat atau tanpa niat.
c)      Fuqoha berbeda pendapat tentang batas-batas kebolehan suami melihat isteri yang ditalak raj’i selama dalam masa iddah.
-          Menurut Imam Malik, suami tidak boleh berduaan dengan isteri ditempat sepi, tidak boleh masuk kekamarnya kecuali atas izin suaminya, tidak boleh melihat rambutnya, tetapi dia membolehkan suami dan isteri makan bersama ditempat ramai.
-          Menurut Abu Hanifah, isteri boleh berhias untuk suaminya, memakai wewangian, menampakkan jari-jemari dan pakai celak. Pendapat ini juga dikemukakan Tsauri, Abu Yusuf dan Auza’i, dan mereka berpendapat suami tidak boleh masuk ke kamar isteri kecuali isteri mengetahuinya baik dengan perkataan, gerakan seperti mendehem atau suara sandal.
d)     Perbedaan pendapat juga terjadi dalam hal suami yang menolak isterinya dengan talak raj’i sedang dia tidak ditempat ( pergi ). Kemudian dia merujuk lagi namun berita yang sampai pada isteri adalah talak sedang rujuknya tidak sampai. Setelah habis masa iddah isteri menikah dengan laki-laki lain.
-          Menurut Imam Malik, laki-laki yang mengawini itu lebih berhak baik sudah disetubuhi atau belum disetubuhi. Demikian juga Auza’i dan Laits.
-          Menurut Imam Syafi’i, Abu Hanifah, ulama Kufah dan lainnya. Suaminya yang telah merujuknya itu yang berhak baik yang kedua sudah mensetubuhi atau belum. Demikian juga Abu Daud dan Abu Tsur.

2)      Hukum rujuk dalam talak ba’in.
a.        Talak ba’in selain terjadi karena talak tiga juga talak yang dijatuhkan pada perempuan yang belum disetubuhi. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat, dan juga disebabkan karena khuluk, disini ada perbedaan pendapat. Apakah talak juga jatuh bila tanpa adanya iwadl ? ini juga terjadi perbedaan pendapat.
Hukum rujuk dalam talak ba’in itu sama dengan hukum awal nikah baik syarat-syaratnya, maskawin, wali atau keridhaan ( izin ). Menurut jumhur rujuk ini tanpa memperhatikan apakah iddah selesai atau belum sebagian kecil ulama ada yang mengatakan bahwa perempuan yang minta khuluk itu tidak bisa dinikahi lagi oleh suaminya pada masa iddah atau selain masa iddah.
Adapun wanita yang ditalak tiga menurut ulama tidak boleh dirujuk lagi oleh suami seleum dia bersetubuh ( dengan suami kedua ). Menurut Sa’id bin Musib dia boleh rujuk dengan akad yang baru.
Yang menyebabkan isteri halal dinikahi lagi :
-          Menurut para fuqoha, cukup dengan bertemunya dua alat kelamin.
-          Menurut Hasan Bisri, harus dengan setubuh dan sampai keluar sperma.
-          Menurut Imam Malik dan Ibnul Qosim, isteri zimmi tidak halal bagi orang Islam bila disetubuhi orang zimmi.
-          Menurut Imam Syafi’i, Abu Hanifah, Tsauri, Auza’i, setiap persetubuhan menyebabkan kehalalan.
b.        Nikah Muhallil
Nikah muhallil adalah pernikahan yang dilakukan oleh orang kedua untuk menghalalkan rujuknya suami pertama.
-          Menurut Imam Malik, nikah muhallil itu batal atau rusak dan harus difasakh sebelum maupun sesudah bersetubuh dan tidak berakibat halalnya isteri bagi suami pertama.
-          Menurut Imam Syafi’i dan Abu Hanifah, nikah muhallil dibolehkan dan tetap sah.
-          Menurut Abu Daud dan sekelompok fuqoha berpendapat nikah muhallil menyebabkan kehalalan isteri bagi suami pertama.
-          Menurut Abi Laila, Tsauri, lain nikah muhallil boleh namun tidak menyebabkan isteri halal bagi suami pertama.
Perbedaan pendapat terjadi dalam hal ketika isteri ditalak dua atau satu kemudian kawin lagi dan suami pertama merujuknya apakah bilangan talak satu dan duanya gugur atau rusak.
-          Menurut Abu Hanifah hal tersebut menggugurkan.
-          Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i tidak menggugurkan.


















IDDAH DAN MUT’AH


Iddah
Untuk pembahasan iddah dibagi menjadi dua pembahasan : iddah isteri-isteri ( yang ditalak ), iddah karena kematian.
1.      Iddah isteri-isteri ( yang ditalak ) ada dua bahasan :
  1. Lamanya waktu iddah.
-          Bagi perempuan yang ditalak oleh suaminya sedangkan dia sama sekali belum digauli, maka ulama berijma tidak ada iddah baginya.
-          Perempuan yang ditalak atau cerai dengan suaminya, sedangkan dia masih mempunayi atau bisa haid, iddahnya adalah tiga quru’.
-          Perempuan yang ditalak atau cerai dengan suaminya, sedangkan dia dalam keadaan hamil, iddahnya adalah sampai dia melahirkan.
-          Perempuan yang ditalak atau cerai dengan suaminya, sedangkan dia sudah memasuki masa menopouse ( berhenti haid ) iddahnya tiga bulan terdapat perbedaan pendapat dikalangan fuqoha tentang makna quru’.
-          Menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, mayoritas fuqoha Madinah, Abu Tsaur, dan segolongan fuqoha, dan dari shohabat Ibnu Umar, Zaid bin Tsabir, Aisyah, bahwa quru’ itu adanya suci.
-          Menurut Abu Hanifah, Tsauri, Auza’i, Ibnu Abi Laila, dan segolongan fuqoha dari sahabat Ali, Umar bin Khattab, Ibnu Mas’ud, Abu Musa bahwa quru’ adalah haid.
Perbedaan kedua pendapat diatas, bagi yang berpendapat quru’ adalah masa suci maka bila isteri yang ditalak memasuki haid yang ketiga suami sudah tidak dapat merujuk lagi. Sedang bagi yang berpendapat quru’ adalah haid, maka suami tidak dapat merujuk lagi setelah selesai haid ketiga.
Bagi yang pendapat quru’ itu suci maka iddah selesai ketika isteri masuk dalam masa haid ketiga, sedang bagi yang berpendapat quru’ itu haid ada beberapa pendapat tentang berakhirnya iddah.
-          Menurut Auza’i, iddah berakhir dengan berhentinya darah haid ketiga.
-          Menurut Umar, Ibnu Mas’ud, Tsauri, Ishaq bin Ubaid, Iddah berakhir ketika isteri mandi dari haid yang ketiga.
-          Ada yang mengatakan iddah berakhir sampai isteri melewati waktu shalat ketika dua sudah suci.
-          Ada yang mengatakan suami masih dapat merujuk isteri meski isteri lalai mandi, sampai dua puluh tahun pendapat ini diriwayatkan syara’ik.
-          Ada yang menyatakan iddah berakhir manakala isteri memasuki haid yang ketiga.
Sedang untuk suci yang sudah tidak mengalami haid sedangkan dia masih berada pada usia haid maka :
-          Menurut Imam Malik, ia harus menunggu sembilan bulan, jika tidak hamil maka ia menjalani iddah selama tiga bulan.
-          Menurut Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan jumhur fuqoha maka perempuan itu harus menunggu hingga masa usia berhenti haid ( menopouse ).

Mengenai wanita yang terkena istihadhoh :
-          Menurut Imam Malik iddahnya satu tahun.
-          Menurut Abu Hanifah, iddahny aadalah bilangan haid.
-          Menurut Imam Syafi’i, iddahnya berdasar pada pembedaan darah. Darah merah tua adalah haid, darah kuning adalah hari-hari suci.
Mengenai perempuan / isteri yang tidak merdeka ( hamba ) :
-          Bila masih haid :
a.       Menurut jumhur iddahnya dua kali haid.
b.      Menurut fuqoha zahiri, ibnu sina, iddahnya tidak kali haid.
-          Bila sudah tidak usia haid :
a.       Menurut Imam Malik dan kebanyakan fuqoha Madinah iddahnya tiga bulan.
b.      Menurut Imam Syafi’i, Abu Hanifah dan Abu Tsur, iddahnya satu setengah bulan.

  1. Hak-hak isteri selama masa iddah
Para fuqoha sependapat bagi perempuan yang ditalak raj’i berhak atas nafkah dan tempat tinggal, begitu pula yang hamil. Sedangkan untuk isteri yang ditalak tiga dan tidak hamil ada tiga pendapat :
-          Menurut fuqoha taufah, isteri berhak tempat tinggal dan nafkah.
-          Menurut Ahmad, Daud, Abu Tsaur, Ishaq, isteri tidak berhak nafkah dan tempat tinggal.
-          Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i, hanya dapat tempat tinggal, nafkah tidak.
2.      Iddah karena ditinggal mati.
Kaum muslim sepakat bahwa iddah isteri yang ditinggal mati suaminya adalah empat bulank sepuluh hari, dan mereka berbeda pendapat tentang suami yang hamil, hamba atau tudak, jika tidak haid dalam empat bulan sepuluh hari tersebut bagaimana hukumnya ?
-          Menurut Imam Malik, isteri tersebut menjalani iddah hamil.
-          Menurut riwayat Ibnu Qosim dari Imam Malik bila iddah kematian telah berlaku, sedang tidak ada tanda kehamilan maka ia boleh kawin lagi demikian juga pendapat Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Tsauri.

Untuk iddah isteri yang ditinggal mati dalam keadaan hamil :
-          Menurut Jumhur iddahnya adalah sampai melahirkan.
-          Menurut Imam Malik iddahnya adalah masa yang paling akhir dari dua iddah ( iddah hamil dan iddah ditinggal mati ).
Iddah bagi perempuan hamba sahaya :
-          Jika berstatus isteri jumhur berpendapat iddahnya separuh dari perempuan merdeka.
-          Menurut fuqoha zhohiri iddahnya sama dengan perempuan merdeka.
-          Sedang jika berstatus Umu Walad menurut Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad Al-Laits, Abu Tsaur iddahnya satu kali haid.
-          Jika Umu walat tersebut sudah tidak haid menurut Imam Malik iddahnya tiga bulan.
-          Menurut Abu Hanifah, Tsauri iddahnya tigak kali haid.
-          Segolongan fuqoha berpendapat iddahnya empat bulan sepuluh hari.

Mut’ah

Menurut jumhur dalam perceraian mut’ah tidaklah diwajibkan. Menurut Ahli Dhohir wajib, menurut Imam Malik, mut’ah itu sunnah. Menurut Abu Hanifah, mut’ah itu wajib bagi isteri yang belum digauli sedang mas kawin belum ditentukan. Menurut Imam Syafi’i, mut’ah wajib manakala inisiatif cerai dari suami kecuali maskawinnya belum ditentukan atau belum digauli.
Jumhur berpendapat perempuan yang dikhuluk tidak mendapat mut’ah, karena kedudukannya sebagai pihak yang memberi. Menurut fuqoha zahiri boleh meneirma dan boleh memberi.

0 komentar:

Poskan Komentar

Followers